Hosting Indonesia

Jangan Melihat Orang dari Gayanya!


Jangan melihat orang dari gayanya, penampilannya. Firman Allah dalam surat Al Munafiqun ayat 4.

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
Artinya : "Dan apabila melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira, bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka: semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)." – (QS.Al Munafiqun[63]:4)

Ayat ini berbicara tentang siapa? ternyata berbicara tentanag orang munafik. Kalau kalian melihat gayanya seakan-akan yang paling benar, berimanlah. Bukan hanya penampilan tetapi bicaranya kita terpesona. Allah subhanahuwata’ala memberikan ibarat kayu yang bersandar ditembok. Yang semestinya kayu untuk pondasi. Maka kita selalu berhati-hati dengan orang yang munafik. Tertipu dengan penampilannya. Ketika diri kita masih mempunyai sifat orang munafik.

Jangan sampai lidah kita menyampaikan. Orang-orang yang beriman itu miskin tidak ada yang menyumbang kepadanya karena selalu sehat tidak ada yang memberi karena tidak mau meminta-minta.

Apa bahayanya apabila menilai penampilannya?
Ketika ada orang kaya atau tidak memiliki harta. Jika ada harta kita banyak teman tetapi jika tidak ada harta maka teman-teman kita tidak ada, tidak ada yang mau mengajak. Betapa bahayanya orang yang melihat penampilannya karena kotor sekali. Sahabat Rasulallah : Bilal bin Robbah, masuk Islam dengan tidak punya harta. Rasulallah tidak membeda-bedakan. Sumaiyah sama seperi Bilal. Islam menunjukkan kesetaraan karena keimanan dan ketakwaan seseorang.

Firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat 12.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu, memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang." – (QS.Al Hujurat[49]:12)

Perasangka buruk. Tidak bisa mendapatkan keuntungan. Di mata Allah subhanahuwata’ala, dia lebih baik dan di mata manusia dia lebih buruk. Penampilan beriman kepada Allah subhanahuwata’ala dan rasul maka sesuai tuntunannya. Pasti perhatikan firman Allah subhanahuwata’ala dalam surat Al ahzab 59 untuk perempuan.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya : "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu, supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.Al Ahzab[33]:59)

Pembelajaran, jangan menjas dari penampilan. Ali bin Abi Thalib adalah orang yang bersifat. Wahai pedagang yang sukses kenapa bajumu tambal-tembel seperti-ku. Janganlah seperti itu agar kamu berpenampilan yang baik untuk menunjukkan nikmat dari Allah subhanahuwata’ala.

Hadist : Abu Hurairoh, Rasulallah bersabda: “Sesungguhnya Allah subhanahuwata’ala tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbuatan kalian. (HR. Muslim)

Kisah : Ada seseorang yang datang kepada kita, orang berpakaian kumuh orang itu terkabul do’anya. Rasulallah menegur sahabat. Abu Zar Al Gifari : percekcokan bilal anak budak hitam. Di dirimu masih ada sifat yang merendahkan orang. Jangan pernah merasa sedih, lemah padahala kita seseorang yang beriman dan bertaqwa. Allah subhanahuwata’ala sudah mencintai kita maka jangan bersedih. Cari perhatian Allah subhanahuwata’ala. Jika ada yang membedakan tidak apa hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Sahabat : Kakinya kecil tetapi Ibnu Mas’ud seseorang penghafal Al Qur’an. Seorang adzan yang buta. Mudah-mudahan kita sadar diri. Smoga mnjadi pelajaran. Allah subhanahuwata’ala lebih mengetahui keadaanku dari orang-orang maka semoga lebih baik.

Kita diajarkan oleh Al Quran dan Al Hadist dan dari orangtua, guru untuk mengajarkan kita. Satu titik yang paling baik bagaimana cara menilai orang lain.

Akhlaknya, cerminan dari orang karena kita tidak tahu.

Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Artinya : “Sungguh aku diutus menjadi Rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang saleh (baik).”

Pada sebagian riwayat:
لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya : “Untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Jangan lihat tua atau muda dalam ceramah tetapi isinya. Mereka dapat ilham dari Allah subhanahuwata’ala untuk menyampaikan. Akhlak kepada Allah subhanahuwata’ala, diri sesama dan yang lebih tua. Ambil dasar ketika kita seperti mereka. Jangan sepelakan ilmu karena itu adalah alat pengetahuan. Orang baik datang ke kita yaitu dengan menjadi taman, bunga jadi yang datang kupu-kupu. Dengan siapa engkau bergaul.

Berdasarkan pengalaman adalah ilmu yg baik. Wallahu’alam bishowab.

Komentar

Postingan Populer

Follow My Social Media